Malang – Di usianya yang ke-150 tahun, PT Nestle Indonesia membangun kemitraan bersama peternak untuk meningkatkan kesejahteraan.

Nestle juga memikirkan keberlanjutan bisnis yang sangat bergantung pada pasokan bahan baku dihasilkan oleh peternak di Jawa Timur. Keberlanjutan usaha peternak menjadi salah satu kunci jangka panjang perusahaan.

Apresiasi Peternak 150 Nestle pun digelar sebagai bentuk penghargaan kepada peternak sapi perah dan koperasi susu di Koperasi SAE Pujon, Kabupaten Malang, Senin (8/10/2016).

“Nestle membangun kemitraan dengan para peternak melalui koperasi-koperasi susu yang ada di Jawa Timur dengan memberikan pendampingan teknis serta pelatihan tentang praktik-praktik peternakan yang berkelanjutan, dan tentunya bantuan finansial,” ujar Sustainability Agriculture Development & Procurement Director PT Nestle Indonesia Wisman Djaja.

Wisman mengatakan, model kerja sama ini telah berhasil memastikan Nestle mendapatkan pasokan bahan baku yang berkualitas dari peternak. Dan pada saat yang sama, peternak akan mendapatkan kemudahan akses pasar yang diperlukan untuk meningkatkan pendapatan.

“Ini akan bisa dicapai dengan peningkatkan profesionalisme dalam budi daya sapi perah,” sambung Wisman.

Disebutkan, Nestle sudah menjalin kerja sama dengan 27.000 peternak sapi perah di Jawa Timur, dimana memberikan pasokan sekitar 500 ribu liter susu setiap harinya untuk diolah menjadi beragam produk unggulan.

“Pak Karwo (Gubernur Jatim) pernah mengatakan, Desa memiliki kemitraan lebih sejahtera dengan desa lain di Jawa Timur,” sebut dia.

Masih menurut Wisman masih ada kesempatan untuk meningkatkan produktifitas sampai 50%, yang nantinya dapat meningkatkan pendapatan peternak hingga 30%.

“Jika sekarang ada 78.000 ekor dengan tingkat produksi dibawah 10 liter. Bisa ditingkatkan jadi 15 liter,” jelas Wisman dalam Diskusi ‘Menuju Peternakan Rakyat Berkelanjutan’.

Peningkatan produksi, lanjut dia, harus didukung dengan ketersediaan pakan. Untuk satu ekor sapi setiap harinya dibutuhkan 40 kilogram hijauan.

“Jika ditotal ada 50.000 ekor sapi, ketersediaan pakan berupa hijauan akan membutuhkan jumlah besar. Tetapi masalahnya, lahan tidak ada, butuh 15.000 hektar lahan di Jawa Timur,” beber dia.

Ia menambahkan, peningkatan produktivitas susu juga harus didukung dengan menjaga kondisi ternak. Ternak stress akan berdampak fatal pada produksi susu.

“Ternak tidak boleh stress, dengan kondisi lingkungan (kandang), kecukupan air, dan menjaga kebersihan, seperti kuku jangan dibiarkan panjang. Jika itu tidak ditangani maka, akan sulit pakan yang diberikan bisa menghasilkan susu yang berkualitas,” sambung dia.

Sementara Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang Sudjono menuturkan, tantangan industri susu nasional saat ini adalah bagaimana peternakan rakyat bisa memenuhi permintaan susu di Indonesia.

Meskipun produksi susu terus meningkat, tetapi kebutuhan susu di Indonesia sebagian besar masih dipenuhi dari impor.

“Sekarang jumlah ternak di Kabupaten Malang sekitar 78.000 ekor, untuk wilayah Pujon sebanyak 18.000 dengan tingkat produksi 316 ton per hari dan harganya hanya Rp 5.000 per liter,” terangnya terpisah.

Sudjono menambahkan, sangat diperlukan subsidi bagi peternak, karena harga jual susu hanya sebesar Rp 5.000 yang tentunya tidak menutup pengeluaran produksi.

“Jika pemerintah bisa mensubsidi dari pakan akan cukup meringankan peternak,” tutupnya.

sumber : detik 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s