saya-dan-stadion-pakansari-001

Tiada hari tanpa kopi itulah yang ada dalam hati dan pikiran pecinta kopi. 

Hari Jumat, 02 Desember yang lalu, tiga hari setelah ditetapkannya Stadion Pakansari sebagai tuan rumah semifinal AFF, saya sudah berada di Gelora Bung Karno (GBK) sejak setengah enam pagi untuk membeli tiket. Saat itu sudah ada antrian empat baris yang masing-masing baris terdiri dari kurang lebih 20 orang. Saya lihat di loket-loket yang lain juga sama banyaknya. Setengah jam kemudian, panjang barisan bertambah hingga empat kalinya.datang-lebih-awal-agar-bisa-foto-foto-001

Sebetulnya saya sudah mengantongi 8 tiket kategori 2 dari pembelian via online hari sebelumnya, namun masih ada tiga teman saya yang lain yang belum kebagian tiket karena pembelian via online dibatasi maksimal hanya 8 tiket per transaksi, dan ketika hendak membeli lagi tiket sudah habis. Setelah berhasil memborong 4 tiket tambahan, saya langsung menuju ke Mall FX Sudirman untuk menukarkan tiket online. Saya tiba si sana kurang lebih jam 10 pagi dan antrian sudah luar biasa panjang.

Antrian pembelian tiket di GBK masih lebih masuk akal ketimbang antrian penukaran tiket online di FX Sudirman. Keduanya dilaksanakan pada hari yang sama, hanya sehari sebelum pertandingan, dengan alokasi jumlah tiket yang tidak jauh berbeda, namun entah kenapa jumlah petugas yang melayani penukaran tiket online jauh lebih sedikit ketimbang petugas yang melayani pembelian tiket di GBK. Seharusnya panitia sudah bisa memprediksi akan ada antrian yang sangat panjang untuk keduanya.

Dengan alokasi 10.000 tiket, pembelian di GBK dilayani di 8 loket dengan masing-masing loket terdapat 3-4 petugas. Dengan asumsi satu orang membeli untuk satu tiket (maksimal 4 tiket per transaksi), berarti hitungannya di GBK 1 petugas melayani kurang lebih 150-800 orang, sementara di FX Sudirman hanya terdapat 4-5 petugas untuk melayani keseluruhan antrian yang bisa mencapai 15 ribu orang bila satu orang mengantri untuk satu tiket (maksimal 8 tiket). Jumlah petugas akhirnya ditambah, seingat saya sekitar 1 jam menjelang sholat Jumat.

Berhubung saya ikut antri beli tiket di GBK dan antri tukar tiket online, jadinya saya bisa membandingkan durasi pelayanannya. Di GBK transaksi saya berlangsung kurang dari 30 detik. Cukup bilang mau beli berapa, bayar pakai uang pas, beres. Oleh karenanya saya tidak heran mendengar kabar bahwa tiket offline ludes dalam waktu 2.5 jam. Dalam perhitungan kasar saya tadi, tiket dapat habis dalam tempo 75 menit saja bila setiap orang membeli 4 tiket. Sementara itu di penukaran tiket online, waktu yang diperlukan bisa mencapai 1 menit lebih karena si petugas masih harus cek barcode tanda bukti pembelian tiket, lalu cek kartu identitas, baru setelah itu tiket diserahkan kepada pembeli.

Apa jangan-jangan PSSI tidak menyangka timnas bisa lolos ke semifinal sehingga urusan ticketing jadi semrawut? Menurut saya ketidaksiapan panitia sebetulnya sudah tercium sejak pemilihan Stadion Pakansari menjadi tuan rumah. Indonesia sudah memastikan lolos ke semifinal sejak hari Jumat, 25 November, tapi pengumuman resmi stadion mana yang hendak digunakan dan berapa harga tiketnya baru dilakukan hari Selasa, 29 November. Keesokan harinya, Rabu, 30 November, penjualan tiket online dimulai dan berakhir pada Hari Kamis. Hanya diberi tenggat waktu satu hari saja. Namun karena banyaknya keluhan dalam mengakses laman penjual tiket, akhirnya diputuskan ada pembelian tiket offlinepada Hari Jumat, padahal pertandingannya hari Sabtu. Semuanya serba mepet seakan-akan kita ini amatiran. Mencari stadion yang pas dan vendor yang dapat melayani pembelian tiket saja kita masih kesulitan, gimana ceritanya bertahun-tahun yang lalu kita sudah berwacana masuk piala dunia? Hadeh.

Yang menjengkelkan bukan hanya soal sulitnya mengakses web penjual tiket, tapi metode pembayaran yang hanya tersedia dengan kartu kredit. Di awal memang sempat bisa melakukan pembayaran dengan cara transfer, namun akhirnya dihapus. Jadi sekarang ini kalau mau nonton bola, kita harus punya smartphone atau komputer, dengan koneksi internet yang stabil, dan kartu kredit. Olahraga rakyat yang kiat tak merakyat. Pembelian tiket online makin menjengkelkan lagi karena setelah berhasil membeli tiket, kita juga masih harus menukarkannya lagi di Mall FX Sudirman. Jadi kalau rumahmu bukan di Jakarta dan Cibinong, berarti kamu harus antri online di daerah masing-masing, lalu antri tukar tiket di Jakarta, setelah itu antri masuk stadion di Cibinong. Antri tiga kali.

Perjalanan ke Pakansari

Saya dan rombongan berangkat jam 12 siang menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL) dari stasiun Pondok Kopi menuju Manggarai. Belum sampai setengah perjalalanan KRL mengalami kendala. Listrik mati, kata salah seorang petugas yang sedang keliling membantu penumpang membuka jendela satu per satu agar tidak pengap. Saya sempat khawatir gagal menonton karena sudah setengah jam KRL tidak kunjung jalan dan berangkat.

Dari stasiun Manggarai, kami pindah ke KRL yang mengarah ke Bogor, dan turun di stasiun Bojong Gede. Kami tiba pukul setengah lima sore. Hampir di setiap pemberhentian stasiun ada-ada saja rombongan merah putih yang masuk. Perasaan campur aduk, antara merasa senang karena bisa bergabung dengan sesama pendukung timnas sekaligus khawatir nanti tidak dapat tempat duduk yang nyaman di stadion. Begitu turun dari KRL rasanya ingin buru-buru agar tiba di stadion lebih cepat dari lain.

Dari stasiun kami berjalan sebentar menuju pangkalan angkutan umum di dekat situ. Tidak ada petunjuk jalan sama sekali. Harus berani bertanya atau siap nyasar. Bayangkan bila ini terjadi pada pendukung Vietnam yang tidak bisa berbahasa Indonesia. Bisa kapok mereka. Ditambah lagi jalannya yang sangat sempit dan becek, lalu di sisi kiri dan kanan banyak terdapat pedagang. Tidak tampak seperti jalur utama yang menghubungkan stasiun dengan jalan besar. Malah lebih mirip seperti jalanan di dalam pasar tradisional. Atau itu memang pasar ya? Entahlah. Saking buru-burunya saya sampai tidak sadar. Di ujung jalan ada pangkalan ojek yang semuanya sigap menawarkan jasa ke Pakansari seakan semua yang melewati jalan itu sudah pasti hendak nonton bola.

Tidak jauh dari situ berjejer angkot-angkot yang bisa disewa untuk langsung menuju ke Pakansari. Biaya sewanya Rp110.000, dengan total maksimal penumpang 11 orang. Hanya sedikit lebih murah dari yang saya keluarkan untuk pulang ke Bekasi dengan menggunakan taxi online.

Turun dari angkutan umum kami masih harus berjalan lagi kurang lebih 1 km untuk sampai ke muka stadion. Di sepanjang jalan itu berjejer rumah makan dan kedai kopi yang harganya standar kantong rakyat. Terdapat pula mini market. Jadi untuk urusan dompet sebetulnya lebih enak nonton di Pakansari ketimbang GBK yang sekelilingnya dipenuhi mall. Persis di ujung gang juga terdapat pom bensin, hal yang tidak kita dapatkan di GBK.

Stadion Pakansari

Pemandangannya bagus, membelakangi gunung. Berbeda tema dengan GBK yang backgroundnya gedung pencakar langit. Dalam stadionnya juga bagus. Tempat duduknya satu orang mendapat satu bangku, bukan tempat duduk memanjang yang bisa diduduki berapapun orangnya selagi muat. Akan tetapi toiletnya luar biasa jelek. Ketika antri masuk stadion saya menanyakan letak toilet ke salah seorang petugas. Jawabannya begini, kamu kan laki-laki, buang di mana sajalah. Bebas.

Saya pikir bercanda, ternyata benar. Di dalam stadion memang ada ruangan yang dikhususkan untuk buang air kecil, namun di ruangan tersebut hanya terdapat 3 keran air yang sepertinya difungsikan untuk wudhu. Tidak ada urinoir, tidak ada kloset. Tapi semua orang buang air kecil di situ. Yang penting menghadap ke tembok. Malu rasanya ketika ada tiga remaja dengan kaos bergambar bendera Vietnam keluar dari ruangan tersebut sambil menutup hidungnya rapat-rapat.

Saya sudah kehabisan kata untuk membahas bagian luar stadion. Sangat amat tidak layak untuk menggelar pertandingan Internasional. Apa iya ini stadion terbaik kita saat ini? Atau memang semua stadion berkelas internasional di dunia seperti ini?

Tapi apapun itu, jangan sampai menyurutkan niat kamu untuk datang ke stadion tanggal 14 nanti ya. Yang penting, saran saya, selalu sedia kopi. Satu cangkir untuk menemanimu antri tiket online. Kemarin saya antri tiket online dari jam 10 pagi, tapi baru bisa login jam 8 malam, itu pun gagal. Baru berhasil besok paginya. Untungnya ada kopi yang membantu saya tetap melek. Ketika antri tiket offline dan menukar tiket online, saya juga harus siap-siap dari jam 3 pagi karena takut kehabisan. Lagi-lagi kopi yang membuat mata saya kuat. Lalu satu cangkir lagi setelah selesai pertandingan, agar kita tetap fokus saat perjalanan pulang.

sumber : tiga-cangkir-kopi-di-semifinal-aff-2016

Lihat juga : cara-mengendalikan-hama-dan-pantogen

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s