Paradoks kaum Wanita pergi ke kedai kopi masih terkekang oleh pemikiran tabu terdahulu. Kedai kopi lebih digambarkan sebagai tempat para Kaum Adam duduk sambil melepas lelah, hanya sepenuhnya Kaum Adam punya kewenangan duduk di sana.

580f2201dd274-wanita-dan-paradoks-kedai-kopi_663_382

Apalagi kedai kopi identik dengan minuman utama yakni kopi berkafein tinggi dan kumpulan lelaki dewasa. Kedai kopi pulalah lebih mengikat ke arah gender dan nilai-nilai maskulinitas pengunjungnya. Anggapan itu sudah begitu lama melekat di kalangan masyarakat.

Wanita hanya bertugas memanggil pulang suaminya atau karib saudara yang belum pulang saat matahari mulai tergelincir ke arah barat atau hari sudah larut malam. Selain itu, Kaum Wanita hanya sebatas pengantar panganan kue tradisional di pagi hari yang laris manis menemani berbagai aneka minuman agar tak sendirian.

Anggapan Wanita duduk di kedai kopi terkesan akan citra buruk penyimpangan moral. Wanita itu dilambangkan dengan makhluk yang taat asas dan tidak melakukan hal yang aneh-aneh.

Gambaran kedai kopi dulu

Dahulu kedai kopi berdiri di keramaian, letaknya yang strategis tempat singgah sesaat. Apalagi budaya menyeruput kopi di waktu senggang sudah menjadi kebiasaan masyarakat khususnya Aceh. Bentuknya sangatlah sederhana.

Di yakini budaya ngopi dan mendirikan kedai kopi dibawa oleh para utusan Kesultanan Turki Usmani dan mengalami akulturasi pada budaya setempat. Kedekatan emosional yang begitu kentara saat itu menjadikan kopi sebagai minuman pererat persaudaraan bagi siapa saja.

Letaknya yang tidak jauh dari keramaian memudahkan siapa saja singgah, bisa bersebelahan dengan masjid, dan di tengah pasar. Sangat mudah dijangkau. Berbeda kini, kedai kopi tak harus dekat masjid atau pasar. Selepas salat banyak para jemaah lelaki melangkahkan kakinya terlebih dahulu ke kedai kopi sebelum beranjak pulang ke rumah.

Saat ke pasar juga demikian, sembari menunggu sang istri berbelanja yang umumnya berdurasi lama. Para suami mengambil inisiatif dengan singgah ke kedai kopi. Membasahi tenggorokan dengan kopi, meluruskan urat kaki yang sedikit tegang dan membaca koran terbitan terbaru.

Waktu saat azan berkumandang, segala aktivitas harus segera tutup tanpa terkecuali termasuk kedai kopi.

Kedai kopi kini

Arus globalisasi mengubah citra dan bangunan kedai kopi menjadi lebih modern. Mengikis batas-batas ketidakwajaran Wanita duduk di sana. Pengunjung kedai kini lebih heterogen dari segala kalangan, terkikisnya pengaruh maskulitas yang mengharuskan kedai kopi diperuntukkan oleh kalangan lelaki dewasa.

Anggapan kedai kopi sangat identik dengan lelaki dewasa, apalagi di dalam kopi punya kafein yang tinggi. Ditambah lagi dengan kepulan asap yang beterbangan sekarang sudah menghilang.

Berbagai keperluan menjadikan kedai kopi sebagai tempat ngopi dan ngobrol semata. Banyak hal-hal yang menjadikan lokasi pertemuan berbagai keperluan santai hingga ranah serius.

Berbagai kalangan sudah menjajal kedai kopi termasuk kaum Wanita dan bahkan anak-anak. Membawa sanak keluarga ke kedai kopi bukan lagi masalah. Malahan kedai kopi menjadi sebuah lokasi rekreasi terdekat bercengkerama dengan orang terdekat.

Kedai kopi kini malah membentuk komunitas yang menguasai pertokoan di satu jalan protokol. Lokasinya tak harus di dekat masjid dan di tengah pasar seperti kedai kopi dulu, penuh dengan pelanggan heterogen. Menghilangkan kesan Wanita yang dulunya kontradiksi dengan kedai kopi di wilayah kekuasaan Kaum Adam tempo dulu.

Memang masih saja anggapan:

Tak elok melihat Wanita duduk di kedai kopi sambil bercanda dengan temannya. Mereka harus duduk di rumah. 
Wanita itu di rumah bukan di kedai kopi, tak sopan apalagi keluyuran hingga matahari telah kembali ke peraduannya.

Di satu sisi Kaum Adam masih ada melihat Wanita di kedai kopi terlihat tak bermoral dan menyalahi kodrat, walaupun tak ada peraturan tertulis untuk pergi ke kedai kopi. Pemilik usaha pasti tak pernah melarang siapa saja pelanggan yang datang, asalkan sesuai dengan norma dan syariat yang berlaku.

Wanita juga ingin duduk di kedai kopi apalagi kini banyak yang mengatasnamakan para pecinta kopi dan penikmat senja. Saya rasa kini kedai kopi telah berubah bentuk dan fungsi, bukan hanya punya kaum Adam yang duduk dengan gelas kopi mulai dingin. Membolak-balikkan koran dan adu ketangkasan bermain catur.

Kedai kopi (bukan) milik kaum Adam saja

Kedai kopi jadi emansipasi Wanita punya hak duduk, melepas penat dan juga berdiskusi dengan teman-temannya walaupun hanya menyasar kedai kopi taraf konsep modern. Bentuk zaman telah berubah ke arah modern dan menghilangkan anggapan terdahulu.

Kedai kopi dahulu hanya menawarkan aneka minuman seperti: kopi, teh, dan susu. Tak ada pilihan lain dan makanannya hanyalah Mie. Sedangkan kini, kedai kopi punya keberagaman aneka minuman dan makanan. Segala keragaman dan berbagai variasi menjadikan kedai kopi sebagai beragam kuliner dengan berbagi menu andalannya yang menggugah selera.

Tak hanya kedai kopi yang mengalami modernisasi, tetapi juga kalangan yang datang. Tak ayal kaum wanita ikut serta dalam berbagai hal invasi kedai kopi modern. Menjadi pelayan, kasir, dan yang paling utama adalah jadi konsumen kedai kopi.

Kedai kopi tak lagi dibatasi oleh salah gender saja, semua bisa ke sana dan ingatlah dan saya tak setuju Wanita adalah menghilangkan citra Wanita Aceh yang anggun dan menjunjung tinggi syariat islam yang berlaku. Apalagi di kedai kopi banyak mata-mata lelaki yang memandangi andai Wanita Aceh tak menjaga marwahnya dengan benar.

Ingatlah bahkan semua yang pergi ke kedai jangan sampai lupa waktu dan menumpukkan pekerjaan di rumah semisal lupa membantu ibu di rumah memasak, piring yang belum dicuci dan jemuran masih tergantung di luar biar ibadah ngopi lancar jaya.

Kedai kopi, tempat pergolakan inspirasi

Kedai kopi tempat terbaik mengungkapkan sejuta inspirasi. Saat J.K Rowling muda yang hidup terlunta-lunta menjadi single parent untuk hidupi dirinya dan anaknya. Ia sedikit melepaskan peluh dan lelahnya hidup untuk kedai kopi, mencari ketenangan sejenak.

Lalu membuka Mesin Tik tua untuk menuliskan lembar demi lembar sebuah naskah yang kemudian menjadi novel fenomenal. Saat diterbitkan membuat J.K Rowling menjadi seorang penulis terkaya di dunia. Bahkan mengalahkan maskot negerinya Ratu Elizabeth II Inggris. Semua karena ia memanfaatkan kedai kopi sebagai pelampiasan inspirasi.

Ide-ide liar tersebut liar dan sulit terbendung untuk tidak ditulis sesegera mungkin, kedai kopi jadi tempat yang tepat. Di saat orang saling berbincang satu sama lain, tertawa terbahak-bahak nan keras. Seseorang Wanita duduk di pinggir sambil mengetik kata demi kata jadi kalimat dan selesai sebuah cerita yang mengubah nasibnya.

Mungkin si Wanita sadar kedai kopi tempat seribu satu inspirasi, sambil sesekali menyeruput kopi sejenak. Kaum Wanita menembus batas bahwa kedai kopi bukan punya lelaki saja dan siapa saja bisa menikmati secangkir kopi, berbagi cerita dengan temannya dan menuliskan ide-ide liar yang membuncah di dalam kepala.

Mungkin saja orang tersebut adalah Wanita muda yang kini jadi seorang penulis penuh karya yang di kenal. Modernitas membuat Wanita yang diduduk di pinggir mana tau adalah blogger jempolan, mungkin juga pemain pialang saham dan bahkan mengelola banyak online shop sambil berbincang-bincang dengan kliennya.

Anggapan buruk lain yang ditujukan oleh kaum Wanita kebiasaan bergosip tanpa henti dan masalah susahnya Move-on curhat kepada teman dekatnya sudah bisa dihilangkan. Karena semuanya tak harus dilihat oleh hal yang tampak-tampak saja, mungkin ada project besar yang sedangkan bahas.

Kaum Wanita pun sadar akan kebutuhan meroket naik tak terduga termasuk kebutuhan akan kouta. Kedai kopi memberi solusi, usaha mereka tak hanya menjual brand kopi saja karena banyak kesempatan lain yang bisa membuat pelanggan datang.

Itulah kenapa kedai kopi tempat mengakali kouta, harganya yang makin hari makin melambung membuat kedai kopi adalah alternatif terbaik. Cukup memesan air minum, bisa internet-an sepuasnya. Tugas kelompok dan perorangan menjadikan kedai kopi salah satu tempat yang strategis, lumayan luas dan bisa saling bertukar pendapat.

Terakhir sebagai penutup, kedai kopi mampu kini mampu mengubah dan tak membatasi lagi pengunjungnya berdasarkan gender. Ngopi sudah jadi budaya yang siapa saja bisa ikutan dan menghasilkan mahakarya tak terduga di situ.

Semoga memberikan pencerahan dan jangan lupa ngopi agar lebih rileks. sumber : wanita-dan-paradoks-kedai-kopi

Baca juga : warung-kopi-dottoto-makasar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s