eva-coffee-house-800x535

Siapa sih yang gak tau kedai kopi pertama di Kab. Semarang???.. hampir masyakat semarang tahu “Warung kopi Eva” nama kedainya..Sejarah teologi mencatat, Eva adalah ibu dari semua umat manusia di dunia. Eva, dalam bahasa Inggris adalah Eve, seringpula disebut Hawa dalam bahasa Indonesia, adalah istri nabi Adam, yang konon adalah manusia pertama yang diciptakan oleh tuhan. Mereka mempunyai dua orang anak, yang lantas berkembang biak menjadi umat manusia yang sekarang jumlahnya sudah milyaran.

Karena itu, bukan tanpa alasan seorang Michael Tjiptomartojo menamai warung kopinya dengan sebutan Warung Kopi Eva. Sebab warung yang terletak di daerah Bedono, Ambarawa ini memang warung kopi pertama yang berdiri di Kabupaten Semarang. Mother of Semarang coffee house.

Syahdan pada tahun 1946, Tjipto muda (kelahiran 2 September 1922) menikah dengan Christina Sunarti, anak seorang lurah di Bedono. Mertua Tjipto mempunyai kebun kopi seluas 3 hektar. Daerah Bedono memang sudah lama mahsyur dengan luasnya perkebunan kopi. Melimpahnya hasil kopi dari lahan mertuanya, membuat Tjipto memikirkan usaha apa yang cocok untuk menampung hasil kopinya. Akhirnya pada tahun 1958 ia memutuskan untuk membuka warung kopi. Kebetulan pula, letak warung kopi itu amat strategis. Berada di lebuh yang menghubungkan Semarang – Magelang.

Sebelum memutuskan jadi pedagang kopi, nama Tjipto sendiri sudah terkenal. Ia adalah anggota Tentara Pelajar Brigade 17. Pernah pula ikut beberapa pertempuran di luar Jawa dan mempunyai sejumlah lencana penghargaan. Ketika memutuskan pensiun dari dunia militer dan membuka warung kopi, beberapa koleganya sudah mencapai pangkat yang lumayan tinggi. Dengan koneksi dan juga tempat yang strategis, tak perlu waktu lama bagi Warung Kopi Eva untuk berkembang pesat.

Warung kopi ini lantas berkembang menjadi legenda. Kopinya yang sedap menjadi buah bibir para pecinta kopi. Terutama para penglaju Semarang- Yogyakarta. Hingga kini, sudah 54 tahun usianya, legenda Warung Kopi Eva masih menggema. Banyak pelanggan setia. Repeater-nya juga banyak. Jika dulu pelanggan Eva masih muda, sekarang ada yang sudah membawa anak, bahkan cucu.

Karena rasa penasaran yang teramat besar, maka saya memutuskan pergi ke Warung Kopi Eva. Berusaha membuktikan kelezatan kopi mereka yang legendaris.

Mendung menggelayut ketika saya sampai di pelataran parkir Warung Kopi Eva. Tapi namanya ternyata sudah berubah. Menjadi Eva Coffee House. Perubahan dalam bahasa Inggris merupakan usaha untuk menyesuaikan zaman.

Memang, perubahan pada Eva tak sekedar mengenai nama. Warung yang dulu hanya sepetak, sekarang sudah menggurita. Jika dulu hanya ada satu dua meja dan kursi, sekarang ada 22 meja tersedia. Mejanya berupa meja marmer panjang, dengan kursi panjang yang empuk. Namun ada beberapa meja kayu dengan kursi satuan. Kalau dulu Tjipto dan istrinya melayani langsung, sekarang ada beberapa pramusaji dengan seragam putih hitam yang melayani.

Ketika saya duduk di kursi panjang nan empuk, dari speaker terdengar Bee Gees melantunkan lagu-lagu klasik mereka. Mulai dari “I Started A Joke” hingga “Massachusetts”. Suasana tampak tenang. Hanya ada beberapa meja yang terisi.

Sesuai namanya, Eva menyajikan beberapa jenis minuman berbahan dasar kopi. Mulai yang paling dasar: kopi hitam, lalu ada kopi tape, kopi jahe, kopi telur, hingga kopi madu. Speciality Eva adalah cappucino dan kopi luwak.

Karena bingung memilih menu, maka saya memilih jalan pintas: bertanya pada pelayan apa kopi yang paling enak.

Kopi Hitam
Kopi Hitam | © Nuran Wibisono

“Maaf mas, tapi semua kopi di Eva enak” ujar pelayan perempuan berusia 20-an dengan memberikan senyum manis. Ya sudahlah, maka saya memesan kopi hitam. Untuk warung yang sudah berusia lebih dari 5 dekade, harga kopi hitam di Eva sangatlah bersahabat: Rp. 5.000 saja.

Tak perlu menunggu lama, kopi hitam datang dengan gelas panjang. Itu yang membedakan kultur ngopi di Jawa Tengah dengan di Jawa Timur. Kalau di Jawa Tengah, kopi seringkali disajikan dalam gelas. Kalau di Jawa Timur, nyaris dapat dipastikan kalau kopi dihidangkan dalam cangkir.

Selain kopi, ada beberapa kudapan yang dihidangkan. Yang paling mencolok tentu kehadiran sepiring tahu godog berukuran besar (satu piring berisi 5 buah) yang tampak menggiurkan. Juga ada Buntil Daun Talas, satu piring berisi 5 butir teluar asin, dan beberapa jenis kerupuk, mulai kerupuk ikan sampai kerupuk beras.

 

Selain mencicipi kopi, alasan lain saya datang ke Eva adalah untuk bertemu pak Tjipto. Dengan umur yang sudah menapak ke angka 9 dekade, beliau, bagi saya, tampak sebagai manusia setengah dewa. Bagi saya, manusia yang mengabdikan diri nyaris seumur hidupnya untuk sesuatu yang ia cintai, patut diberi gelar manusia setengah dewa. Tak banyak orang yang mau dan bisa seperti itu.

“Pak Tjipto sedang istirahat mas,” kata seorang pelayan sembari menunjuk sebuah bangunan besar di atas, “tapi kalau mau masnya silahkan menunggu.” imbuhnya.

Jika diibaratkan sebagai sebuah perang, Tjipto adalah seorang jenderal bintang 4. Ia tak lagi turun tangan ke medan perang, tak lagi mengurus warung kopinya secara langsung. Ia sudah mempunyai banyak prajurit yang dapat diandalkan.

Salah satunya adalah Petrus Canisius, akrab dipanggil Canis, anak ketiga Pak Tjipto. Beliau adalah salah seorang manajer di Eva Coffee House. Sejak beberapa tahun lalu, Tjipto memang sudah menyerahkan tampuk kekuasaan pada anak-anaknya.

“Awal tahun 2012, Eva sudah dijadikan perseroan terbatas. Pake nama PT Eva Tjipto Sejahtera, pemilik sahamnya adalah para keluarga” tutur Canis. Hal ini merupakan salah satu langkah dari keluarga untuk membuat Eva Coffee House menjadi lebih besar dan teratur secara manajerial. Tjipto sendiri diangkat sebagai presiden komisaris. Eva juga membuka cottage yang seringkali disewa oleh para keluarga. Pemandangan di sekitar Eva memang indah. Tak heran banyak pula tamu yang menginap disana. Tak jarang, banyak wisatawan mancanegara yang datang menginap di Eva. Biasanya mereka datang dari pelabuhan Tanjung Mas, Semarang. Menginap semalam di Eva, lalu meluncur menuju Borobodur di Magelang, lalu ke Yogyakarta.

Biji Kopi di Eva Coffee House
Biji Kopi di Eva Coffee House | © Nuran Wibisono

Selain menjadi perseroan terbatas dan dibangunnya cottage, perubahan juga terjadi pada kebun kopi yang sudah semakin meluas. Dulu, lahan milik Eva hanya 3 hektar, sekarang sudah mencapai 8 hektar. Tapi ternyata lahan kopi seluas itu masih belum cukup memenuhi kebutuhan Eva. Seringkali, Canis membeli kopi dari lahan petani di sekitar Bawen.

Selain menyajikan kopi konvensional, Eva juga turut serta dalam tren kopi Luwak. Eva memiliki sekitar 20 ekor luwak dari Pasar Pon Ambarawa dan di Pasar Hewan Ngasem Yogyakarta, yang lantas ditangkarkan. Tapi produksi kopi luwak Eva tak banyak.

“Iya, kopi luwak itu tak seberapa hasilnya. Panen bulan Juli sampai Agustus. Tapi dari bulan September sampai Juni, kita harus ngasih makan. Jadi secara ongkos produksi, ya sebenarnya gak nyucuk” kata Canis.

Selama masa panen kopi luwak, 20 ekor luwak itu menghasilkan 240 kg biji kopi luwak, tapi setelah diproses, hanya 80% yang bisa jadi bubuk. Kopi itu lantas dikemas dan dijual dalam dus. Satu dus dihargai Rp. 500.000, bisa untuk membuat sekitar 10 cangkir kopi.

Selain kopi luwak, Eva juga memproduksi sirup kopi. Ini adalah hal yang menarik. Karena saya jarang sekali melihat ada olahan sirup dari kopi. Untuk membuat sirup kopi, Eva mengimpor mesin ekstraksi kopi dari Belanda. Mesin ini berukuran besar. Sekali produksi, mesin ini bisa menampung hingga 5 kg biji kopi yang nantinya akan menghasilkan 40 botol kopi berukuran 600 ml. Ada dua jenis sirup kopi: manis dan pahit. Kalau manis, tak perlu menambahi gula. Kalau pahit, ditambah dengan gula.

“Sirup kopi ini istimewa mas, bisa dibikin es kopi. Kalau diseduh panas pun, pake air dispenser juga bisa. Kalau kopi biasa kan harus pake air mendidih” seloroh Canis seraya berpromosi. Satu botol sirup kopi dijual seharga Rp. 45.000. Selain sirup, ada bubuk kopi ala Eva yang dijual dengan harga Rp. 10.000 (kemasan 100 gram) dan Rp. 25.000 (kemasan 250 gram).

Michael Tjiptomartojo Pendiri Eva Coffee House
Michael Tjiptomartojo Pendiri Eva Coffee House | © Nuran Wibisono

Saat yang ditunggu akhirnya datang juga. Pak Tjipto sudah bangun dari tidurnya dan sudah berpakaian rapi. Beliau memakai peci berwarna hitam dengan bros bintang di sudut kirinya. Seuntai kalung salib tampak menjuntai dari saku baju berwarna hijau pupusnya. Beliau memamerkan senyum manisnya ketika Canis mengatakan saya ingin bertemu dengan beliau.

Ketika saya minta izin memotret beliau, Canis membenarkan letak peci yang sebelumnya agak miring.

“Biar tambah ganteng. Masih umur 92 lho mas” ujar Canis bercanda.

Tjipto terkekeh. Dari balik meja, beliau memang tampak seperti manusia setengah dewa. Raut kebijakan tampak memancar dari wajahnya. Bagi saya, beliau juga tampak sebagai pensiunan jenderal warung kopi yang sedang berbahagia menikmati hari tua. Tak lagi memikirkan uang atau laba. sumber : ibu-warung-kopi-semarang

baca juga : kopi Indonesia, Tips kopi lainnya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s